LIPAN INDONESIA minta Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Segera Mengusut Tuntas Permasalahan Pasar Cendrawasih Yang Belum Di Gunakan Sampai Sekarang.
PASAR CENDRAWASIH MAKASSAR
detikinews.id MAKASSAR SUL-SEL - Ketua koordinator Wilayah LIPAN INDONESIA Junaidi Layyu menyoroti bangunan pasar yang dibangun menggunakan anggaran APBD Tahun 2023 senilai Rp.11.525.811.221. Meliar Rupiah, hal ini disampiakan oleh Ketua Koordinator Lentera Independen Pemerhati Aspirasi Nusantara (LIPAN INDONESIA) di Sekretariat DPP LIPAN INDONESIA Jalan Nuri baru setelah usai melakukan kunjungan dibeberapa pasar yang ada di kota Makassar, informasi diterima kepada awak media detikinews.id pada hari Senin 04/08/2025.
Junaidi Layyu mengatakan, bangunan pasar Cendrawasih tidak berfungsi maksimal layak-Nya bagai barang rongsokan. Kita sudah tinjau sampai lantai tiga (3) yang ada hanya beberapa tumpukan barang titipan pedagang, sementara pedagangnya berjualan di area bawah disekitar pasar dan sebahagian menempati parkiran. ImbuhNya
Keterangan terpisah dari Anggota timsus LIPAN Indonesia yang ikut monitoring pada saat itu, menemukan adanya dugaan kejanggalan dan kekeliruan dalam penyusunan Studi kelayakan sehingga terjadi kesalahan dalam menentukan desain gambar oleh konsultan perencanaan, diduga studi kajian tidak akurat sehingga berpotensi terjadi kesalahan saat melakukan Pembangunan Pasar Cendrawasih Makassar. Ucap ketua Timsus LIPAN Indonesia (Junaidi).
Junaidi dengan nada kritis, seharusnya mereka melakukan sosialisasi sebelum menentukan penetapan desain gambar dari pihak konsultan, lalu melakukan expose di sekitar bangunan Pasar guna Mendengarkan masukan dari masyarakat penghuni pasar, karena merekalah yang akan nantinya mengunakan pasar tersebut, "Ucapnya.
Informasi didapatkan Tim Investigasi kepada beberapa pedagang pasar Cendrawasih yang pimpin oleh Junaidi Layyu, bahwa pedagang kaki lima yang ada di sekitar-Nya semua menganggap bahwa pasar itu tidak ada yang mau tempati, karena tempat jualan yang ada di lantai dua dan Lantai tiga tidak sesuai harapan para pedagang lama yang sudah berjualan kurang lebih Dua puluh Tahun (20 tahun) bahkan lebih.
Hasil kunjungan Tim ke Pasar Cendrawasih menemukan, apa yang menjadi kendala mengapa pedagang tidak ada yang mau berjualan dilantai dua (2) dan tiga (3)? selain tangga-Nya terlalu tinggi masih banyak pedagang yang berjualan di Lapak Lapak yang bertebaran di bawah sekitar bangunan pasar cendrawasih dan hampir sepanjang jalan penuh dengan los los jualan, ini yang menyebabkan pedagang tidak ada yang mau berjualan di pasar cendrawasih. Walaupun bangunan pasarnya sudah selesai dikerjakan. Kami sangat prihatin dengan kondisi pasar Cendrawasih seperti itu, yang kami sayangkan uang negara yang dipakai membangun pasar yang tidak menghasikan PAD buat kota makassar.
Lanjut Junaidi Layyu bersama tim melakukan wawancara dengan beberapa pengunjung pasar. Salah satu pengunjung menyampaiakan keluhan-Nya atas nama : Nurhaedah tinggal di cenderawasih menjelaskan mengapa mereka tidak mau bebelanja di bangunan baru dengan alasan karena tangga-Nya terlalu tinggi dan lebih enak belanja di pinggir jalan jauh lebih cepat dan lengkap. Rata rata pengunjung pasar cendrawasih yang kami lihat berumur sekitar lima puluh tahunan (50) keatas. Jadi kalau tangganya seperti itu wajar saja kalau tidak ada yang mau berbelanja di atas. Menurut pengunjung.
Kami selaku TIM KHUSUS LIPAN INDONESIA beserta jajaran meminta kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi selatan (KEJATI SUL-SEL) untuk segera menurunkan tim untuk mengusut tuntas proses pembangunan pasar Cendrawasih mulai dari Dinas perdagangan kota makassar, dan konsultan perencana bangunan Pasar, yang diduga merugikan keuangan negara. Karna tidak berfungsi-Nya pasar cendrawasih tersebut. Tutup-Nya. (Harry Goa)